
Judul Karya : Wajah Plastik
Pencipta : Murid SMA
Tingkat : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Media : Sampah plastik daur ulang
Teknik : Kolase dan rakit tiga dimensi
Ukuran : ± 60 × 80 cm
Tahun Pembuatan : 2026
Karya seni berjudul “Wajah Plastik” merupakan sebuah karya seni rupa tiga dimensi yang menampilkan bentuk wajah manusia sebagai objek utama. Wajah ini disusun dari berbagai jenis sampah plastik daur ulang, seperti botol plastik bekas, tutup botol, plastik kemasan, sedotan, dan potongan plastik lainnya yang telah melalui proses pembersihan dan pemilahan.
Pemilihan wajah manusia sebagai bentuk utama melambangkan bahwa permasalahan sampah plastik bukanlah isu yang jauh dari kehidupan manusia, melainkan telah menjadi bagian yang sangat dekat dan bahkan melekat pada kehidupan sehari-hari. Setiap ekspresi, tekstur, dan susunan plastik pada wajah ini mencerminkan dampak penggunaan plastik yang berlebihan terhadap lingkungan dan masa depan manusia.
Secara visual, karya ini memadukan warna-warna cerah dan kontras dari plastik bekas untuk menciptakan kesan estetis yang kuat. Namun di balik keindahan visual tersebut, terdapat pesan kritis tentang pencemaran lingkungan, terutama akibat limbah plastik yang sulit terurai dan terus menumpuk di alam. Karya ini mengajak penikmat seni untuk melihat sampah plastik dari sudut pandang yang berbeda—bukan hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai material yang memiliki potensi nilai guna dan nilai seni.
Proses penciptaan karya “Wajah Plastik” menuntut kreativitas, ketelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan. Murid tidak hanya dituntut untuk mampu mengolah bahan bekas menjadi bentuk artistik, tetapi juga memahami makna dan pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut. Dengan demikian, karya ini menjadi bentuk pembelajaran seni yang menyatu dengan edukasi lingkungan.
Melalui karya ini, murid SMA berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik serta mendorong upaya daur ulang sebagai salah satu solusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan.